Artikel Mengagumimu Dalam Diam


MENGAGUMIMU DALAM DIAM
Hai, namaku Lara. Teman-temanku biasa memanggil ku Rara. Aku baru saja diterima di SMA favorit yang ada didaerahku. Pagi yang cerah ini, aku berangkat kesekolah diantar oleh ayahku. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah, dan hari ini juga aku akan menjalani kegiatan MOS. Dengan seragam putih biru ku dan membawa perlengkapan untuk kegiatan MOS di sekolah baruku.
Kurang lebih 20 menit perjalananku dari rumah menuju sekolah, setelah sampai disekolah aku langsung menuju ke lapangan untuk mengikuti rangkaian acara kegiatan MOS. Saat aku berjalan menuju ke lapangan, ternyata disana sudah banyak teman-teman yang sudah berbaris di lapangan, untungnya acara nya belum dimulai dan aku langsung masuk ke barisan dan mengikuti intruksi dari panitia MOS nya.
Hari ketiga kegiatan MOS disekolah, aku disuruh untuk memakai baju olahraga karena akan ada sesi olahraga bersama guru-guru dan staff TU disekolah. Rangkaian acara olahraga pun dimulai. Ditengah acara olahraga, tiba-tiba aku terjatuh dan mengakibatkan aku tidak bisa mengikuti acara selanjutnya dan aku langsung dibawa ke ruang UKS oleh tim medis. Aku merasa kaki ku ada yang tidak beres, karena pada saat aku akan dibawa ke UKS kaki sebelah kiri ku tidak kuat untuk berjalan. Saat tim medis memeriksa kaki ku, ternyata kaki bagian lututku terkilir. Akhirnya aku istirahat di UKS ditemani oleh kaka kaka tim medis.
Siang hari nya, saat kaki aku sudah tidak terlalu sakit, panitia MOS menghampiriku dan berkata,”masih kuat untuk mengikuti acara selanjutnya?”, “masih teh” ujarku. Saat itu aku langsung bergegas ke kelas untuk mengikuti acara selanjutnya. Pada saat aku berjalan di lapang, ada kakak panitia yang menghampiriku dan berkata, “de mau akang bantu ga?”, “boleh kang, terimakasih sebelumnya” jawabku. Saat aku memperhatikan wajah kakak tersebut ternyata dia dia cukup ganteng dan membuat aku menjadi ada rasa kagum terhadap dia. Akhirnya aku diantar sampai depan pintu kelas dan aku berkata “terimakasih kang”, “samasama, semoga lekas sembuh ya” jawabnya.
Saat rangkaian MOS berakhir, aku tidak pernah lagi bertemu dengan kakak itu. Setelah aku mencari tahu tentang kakak itu, ternyata dia adalah teman kakak kelasku, namanya April. Teh April ini ternyata sahabat dari kakak panitia yang aku kagumi. Pada saat itulah aku mulai mencari tahu tentang cowo tersebut kepada Teh April.
Hari demi hari, aku terus mencari tahu tentang cowo itu kepada kakak kelasku dan akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta kontak cowo yang aku kagumi kepada kakak kelasku. Setelah dapat kontaknya, aku tidak langsung chat dia, karena aku takut, takut ganggu dia dan akupun masih terbilang siswa baru.
Pada suatu hari dimana aku mulai gelisah dan terus memikirkan cowo itu. Saat aku sedang diam di balkon kelas, aku melihat ke samping kananku, ternayata aku melihat ka Angga ini sedang bermain gitar di depan kelasnya bersama teman-temannya. Aku kaget ternyata kelas kita begitu dekat.
Keesokan harinya, aku melihat dia sedang bermain bola di lapang. Aku melihat dia dari depan kelasku. Aku terus memperhatikan dia dan sampai akhirnya dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikan dia. Aku langsung mengalihkan mataku ke tempat lain. Saat aku memperhatikan dia kembali, ternyata dia melihatku dan dia senyum kepadaku, aku pun balik senyum kepada dia.
Ternyata cowo itu bernama Angga. Angga ini adalah kakak kelasku dan dia adalah salah satu angota osis di sekolah aku. Menurutku, dia adalah seorang kakak kelas yang paling menarik perhatianku. Seolah-olah tidak ada lagi yang melebihi ke fantasiannya. Menurutku dia cowo yang sangat rapih dalam berpenampilan dan bersih. Dia selalu terlihat ceria dan senang bercanda saat sedang bersama teman-temannya. Aku masih ingat wajah dia saat sedang me-ospek kami saat itu, sangat berkarisma dan aku tambah kagum kepada dia.
Bagiku, mengagumi seseorang dalam diam adalah keahlianku. Aku tak pernah bisa untuk mengutarakannya tetapi yang bisa ku lakukan hanyalah memberinya isyarat dan mengeja namanya dalam setiap nafas batinku. Kupikir aku hanya jatuh hati sesaat. Aku mencoba menyadarkan diriku untuk melupakanya. Tetapi, sungguh sulit.
Disekolah, aku mengikuti ekstrakulikuler Jurnalistik. Kegiatan dari eskul tersebut adalah membuat artikel, membuat majalah sekolah, membuat madding, dan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah. Di eskul ini aku menjabat sebagai wakil pimpinan redaksi. Aku tidak menyangka bisa terpilih menjadi wakil pimpinan redaksi.
Pagi yang cerah, saat itu aku datang lebih pagi karena aku harus meliput kegiatan yang ada di sekolah. Saat itu disekolah sedang ada acara Jurnalis Day yang diadakan oleh eskul Jurnalistik. Pada saat aku sedang menyiapkan panggung untuk acara, tiba-tiba Angga lewat melihatku dan aku membalas dengan senyuman sambil bergegas menyiapkan panggung.
Saat itu aku sedang berkumpul dengan tim jurnalis yang lain, aku di panggil oleh bu Iyoh untuk memanggil pak Kasim. Saat aku sedang mencari pak Kasim, aku mencoba bertanya kepada anak osis yang sedang duduk di depan ruang osis. ”teh maaf mengganggu, mau Tanya teteh melihat pak Kasim lewat sini ga?” tanyaku sambil melihat nama yang ada di bajunya, ternyata namanya Fitri. “Pak Kasim? Tadi aku lihat dia berjalan ke arah pos satpam.” Jawabnya. “Terimakasih teh” jawabku sambil tersenyum dan akupun langsung bergegas ke pos satpam untuk mencari pak Kasim.
Beberapa hari setelah acara Jurnalis Day, aku melihat Kak Angga ini sedang asyik mengobrol dengan Teh Fitri dan akhir-akhir ini sering melihat mereka ke kantin bareng, pulang bareng. Aku berfikir mungkin mereka sahabatan. Namun saat aku perhatikan baik-baik mereka sangat akrab sekali dan melihat gerak gerik mereka seolah menandakan mereka itu pacaran. Aku langsung menceritakan hal ini ke dua sahabatku yaitu Anita dan Kharisma. “Eh nit, khar. Aku tadi ngeliat Kak Angga sama Teh Fitri”, “ohiya? Kamu liat dimana?”, “Aku tadi liat mereka lagi di kantin, lagi makan berdua”, “oh mungkin mereka cuman temen deket kali Li” Ucap Anita.
Aku selalu memikirkan mereka. Apa mereka pacaran atau temen dekat doang? Aku semakin penasaran dengan hubungan mereka. Sampai disuatu hari aku mencoba mengirim pesan ke Kak Fitri untuk menanyakan hal hubungan mereka.
“hai, teh”
“haloo Ra. Apa kabar”
“baik kak, kabar kak Fitri gimana?”
“baik juga, Ra. Ohiya, kamu suka ya sama Angga?”
“engga ko kak, emangnya kenapa?”
“oh engga, soalnya Angga waktu itu cerita ada cewe yang nge chat ke dia. Namanya Lara. Tapi tenang aja ko Ra. Aku cuman sahabatan sama dia, ga lebih hehe”
“ohiya kak”
Saat aku mengetahui bahwa kak Angga dan kak Fitri hanya sahabatan, hati aku langsung lega dan senang karena apa yang aku pikirkan selama ini tuh salah.
Seiring berjalannya waktu, aku dan Kak Fitri semakin dekat. Aku sering curhat tentang perasaan aku terhadap Kak Angga dan selalu menanyakan hal hal yang disukai oleh Kak Angga. “Angga tuh orangnya lucu, suka ngelawak dan bikin semua orang yang di dekat dia tertawa”. Aku mulai tahu kebiasaan-kebiasaan Ka Angga dari Kak Fitri.
Saat itu sedang ada acara disekolah, aku bertemu kembali dengan Kak Angga ini. Aku langsung memberitahukan kepada Kak Fitri bahwa aku bertemu dengan dia. Yang mengejutkan, entah kenapa Kak Fitri menyuruhku untuk menyatakan rasa yang selama ini aku pendam kepada Kak Angga. Aku sebenarnya tidak ingin menyatakan rasa ini kepada Kak Angga. Biarkan rasa ini aku pendam, karena aku tidak mau kalau Kak Angga sampai tahu kalau aku ada rasa kepadanya.
Namun Kak Fitri selalu menyuruhku untuk menyatakan rasa aku kepada Kak Angga. Namun lama kelamaan aku merasa ada kejanggalan terhadap Kak Fitri, kenapa Kak Fitri selalu menyuruhku untuk menyatakan rasa aku kepada Kak Angga. Dan Kak Fitri selalu menanyakan kepadaku. “kalau aku jadian sama Angga gimana? Kamu marah ga?” “kalau aku pacaran sama Angga kamu bakal marah ga sama aku?”. Aku tidak bisa menjawab. Karena orang yang selama ini aku percaya sebagai sahabatnya Kak Angga ini selalu menanyakan hal tersebut seolah ingin merebut Kak Angga dariku.
Satu bulan kemudian setelah kejadian itu, aku diberitahu oleh sahabat aku, Kharisma. Bahwa mereka sebenarnya sudah jadian, dan mereka kemarin malam pergi ke suatu tempat. Disitu aku langsung nangis dan ga nyangka bahwa mereka ternyata sudah dekat lumayan lama. Tapi yang aku heran, kenapa Kak Fitri baik sekali suka memberitahu kebiasaan sampai kesukaan Kak Angga kepadaku?. Sebelumnya, memang aku menyatakan rasa aku kepada Kak Angga, dan jawaban Kak Angga adalah “maaf Li. Kalau aku bikin kecewa, tapi aku salut sama kamu karena kamu mau jujur soal rasa kamu. Maafin aku, aku gabisa lebih dari teman, tapi kamu bisa jadi sahabat aku kok. Karena dekat itu ga harus ada status dan untuk berbagi hal baik pun ga harus menjadi orang spesial kan?”.
Setelah aku mengetahui bahwa mereka benar benar sudah jadian, aku memutuskan untuk menjauh dari kehidupan mereka berdua karena tidak ingin merusak hubungan mereka. Hal itu menjadi tamparan untukku, menjadi pengingat bagiku bahwa tidak semua cinta  itu harus memiliki, adakalanya dimana cinta itu bisa menjadi sahabat bisa juga menjadi musuh. Karena kita lebih memilih bersahabat maka cintaku hanya dikubur sebatas sahabat saja, tidak lebih. Dan kita harus memperlakukan sahabat itu berdasarkan cinta yang kita miliki.

Comments